Senin, 23 November 2009

Film Psikopat

Nama : Bagus Nurcahya
NPM : 10080007165
Kelas : A

Tugas Penulisan Artikel

Judul: THE CELL

Sutradara: Tarsem Singh
Pemain: Jennifer Lopez, Vincent Vaughn

APA isi otak seorang psikopat? Apa yang membuatnya memiliki nafsu membunuh yang tak lazim? Pengalaman masa lalu yang pahit ataukah insting yang ganjil? Pertanyaan provokatif inilah yang ingin ditampilkan Tarsem Singh, sutradara film The Cell.

Sepintas lalu, tema ini tampak biasa karena Hollywood sudah sering memperdagangkan tema problem psikopat, katakanlah dalam film The Silence of the Lamb yang menghebohkan itu. Tetapi, ada yang istimewa dalam debut pertama Singh ini.

Sutradara keturunan India ini dikenal sebagai pembuat klip video yang terpincut oleh ihwal science fiction. Film pertamanya yang menggunakan idiom klip video ini dianggap telah memperluas genre film thriller. Yang ia sajikan mirip perpaduan antara The Silence of the Lamb dan Matrix.

Syahdan, seorang pembunuh sadistis bernama Carl Stargher (Vincent Vaughn) tertangkap polisi dalam keadaan koma. Psikopat ini punya kebiasaan aneh luar biasa: ia gemar menculik para gadis dan menyekapnya di sebuah kamar kaca yang tertutup rapat yang secara otomatis didesain akan terpenuhi air. Pada jam-jam tertentu, air akan mancur sehingga sang gadis mati tenggelam. Seluruh proses sekarat didokumentasikan dengan kamera video. Mayatnya yang kaku itu kemudian disetubuhi, lalu dikelantang (diputihkan) agar mirip boneka. Setelah itu, sang mayat yang malang itu dibungkus plastik dan ditenggelamkan di sungai.

Yang menjadi problem adalah, setelah Stargher berada di tangan polisi, masih ada seorang korban yang kemungkinan besar masih hidup. Agen FBI Peter Novak (Vince Vaughn) berusaha menelisik di mana lokasi sel penyekapan, tapi hasilnya nihil. Pelacakan yang dilakukan kemudian adalah mempelajari alam pikiran sang Psikopat. Inilah inti cerita yang mengasyikkan.

Tersebutlah sebuah rumah sakit terapi eksperimental. Rumah sakit ini, meski belum diakui kalangan kedokteran, toh memiliki metode canggih yang memungkinkan seorang terapis masuk ke alam pikiran pasien yang koma. Sejauh ini, para terapis belum pernah mengetuk pintu alam pikiran penderita skizofrenia, apalagi seorang pembunuh. Tapi, Catherine Deane (Jennifer Lopez), seorang terapis di sana, mencoba masuk ke dunia Stargher. Hasilnya? Ia mendapatkan sebuah dunia psikotik dengan imaji-imaji gelap, halusinasi-halusinasi, panorama-panorama dan lanskap-lanskap yang menakutkan.

Di sinilah Singh lahir sebagai sutradara klip video yang menggunakan medium layar besar sebagai sebuah lahan eksperimen. Dia membawa penonton bertamasya ke dunia horor psikopat, yang menampilkan visualisasi bak simulasi virtual komputer yang canggih. Ini tak mengherankan jika lahir dari seorang Singh, yang pernah melahirkan klip video kelompok musik R.E.M, Losing My Religion. Dia begitu piawai menyajikan simbol-simbol yang berbau teologi: dikotomi antara iblis dan kebajikan. Dengan visualisasi semarak khas warna-warna MTV—meski sesekali terasa kenes—panorama yang disajikan oleh Singh bisa mengingatkan kita pada alam surealis lukisan-lukisan Salvador Dali: jam yang berdetak, tangga curam, kuda yang terpotong, dan salib.

Kelemahan The Cell terletak pada skenario. Film ini tak luput dari kisah yang klise. Catherine Deane tersesat di alam petualangan pikiran Stargher. Lalu, Peter Novak, sang agen, bersedia menjadi obyek eksperimen untuk ikut masuk ke alam pikiran Stargher demi membebaskan Deane. Setelah terbebas, Catherine sendiri kemudian nekat kembali lagi mengarunginya karena ia hendak menyembuhkan sang Psikopat. Sebab, dalam petualangan di alam bawah sadar itu Catherine menemukan akar kegilaan Stargher, yaitu lantaran masa kecil Stargher penuh siksaan dari ayahnya. Petualangan di alam surealis ini ditunjang oleh adibusana: pertarungan jahat-baik beraura biblikal dikemas dalam gaya kostum ultrapop. Deane bahkan bergaun bak fantasi malaikat penyelamat atau rohaniwan, sementara Stargher menjelma dalam bentuk halusinasi iblis penguasa kegelapan. Tak mengherankan jika film ini masuk nominasi untuk best make up (tata rias terbaik).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar